Rabu, 04 Agustus 2010

Duri Kota Kecil di Riau ( dari catatan Reuni Akbar Cendana Duri)

Dahulu Duri adalah kota kecil dikelililingi hutan Sumatera tepatnya di provinsi Riau dan lebih dikenal karena tambang minyak mentah-nya, sekarang  Duri telah berkembang pesat. Pencapaian ke kota kecil ini membutuhkan waktu 3 jam dari kota Pekanbaru dengan kendaraan, jalanan aspal-nya cukup bagus tapi sedikit memberi rasa takut ketika harus berselisihan dengan truk-truk pengangkut kayu balak dan sawit
 
  
           video
Setelah lulus SMA 24 tahun yang lalu, aku dan teman-teman SMA-ku bertemu kembali di kota kecil ini untuk menghadiri acara Reuni Akbar sekolah kami. Ber-nostalgia mengingat masa kecil dan masa remaja kami, hidup di sebuah kompleks milik berusahaan minyak tempat orang tua kami bekerja.  Kehidupan yang jauh dari suasana hiruk pikuk dan kemacetan. Teman setia kami adalah panas terik matahari yang dulu tidak kami rasakan, tapi hari ini matahari rasa berjarak sejengkal dari ubun-ubun kepala. Tapi kota kecil ini tetap memberi wajah nyaman dengan semua keteraturannya...maklum kompleks perumahan perusahaan minyak ini semakin ketat menjalankan peraturan-peraturannya dibandingkan waktu dulu.

Angkatanku adalah angkatan ke 4 yang lulus dari sekolah SMA Cendana Duri, yang tahun ini merayakan 30 tahun berdirinya sekolah kami , dan Reuni Akbar  ini diadakan untuk 29 angkatan kelulusannya. CD'86 (demikian nama angkatan kami) termasuk peserta alumni  yang lumayan banyak kehadiran pesertanya.. memang angkatanku paling heboh, padahal umur sudah diatas kepala 4 semua.. tapi Alhamdulillah silaturahmi, keakraban dan kekompakkan kami masih terjaga hingga hari ini.



Bernostalgia di setiap sudut sekolahan sambil berkelakar tiada henti itulah yang kami lakukan selama 4 hari pertemuan kami. Dan bertemu dengan guru-guru yang sekarang sudah sepuh, mencium tangan mereka sembari mengucapkan terimakasih atas semua bimbingan mereka membuat dadaku dipenuhi perasaan bahagia, dan aku melihat guru-guru kamipun menatap kami dengan bangga dan bahagia.

Walaupun hidup di kota kecil di belantara hutan Sumatera, tapi kami tidak kekurangan fasilitas dan sarana rekreasi seperti yang dimiliki orang-orang di kota besar, seperti : kolam renang, lapangan golf, bowling dan lain-lain, dan Bowling adalah tempat favorite semua teman. Dulupun kami bisa nonton film di bioskop (Movie Theater) yang lumayan mewah untuk ukuran saat itu tetapi tidak ada pilihan film, hanya ada satu film yang diputar oleh perusahaan. 

Kami juga sudah makan Hamburger jauh sebelum M'c Donald masuk ke Indonesia (bahan-bahannya segar bukan frozen food dan rasa-nya jauh lebih enak!). 
Tapi makanan yang paling menyenangkan untuk semua anak Duri waktu dulu adalah makan buah nangka yang masih kecil yang disebut Cimbabal, buah ini bisa dibuat rujak bebek atau cukup dicocol garam,  sampai hari ini akupun tidak mengerti dimana letak enaknya buah nangka muda ini karena rasanya sepat/kelat.. tapi itulah kami anak Duri, sampai-sampai Icon perkumpulannya pun bergambar Cimbalal... ha ha ha

Hampir disemua kegiatan reuni selalu diisi dengan kegiatan kuliner, dan inilah sebagian makanan nostalgia aku dan teman-temanku. 
Dan dibalik makanan favorite ini, tersimpan cerita-cerita seperti :
Lontong Pical Kopelapip, adalah makanan yang biasa teman-teman beli pada saat pelajaran berjalan alias pada bolos sekolah ("cabut" istilah kami).
Soto Padang Kandis, makanan yang dapat kami nikmati setiap bis berhenti diperistirahatan (rest area) dalam perjalanan antara Pekanbaru dan Duri.
Hamburger and Coke, cemilan sore hari saat kami berenang atau hang out di Club - Swimming Pool.

Pada saat akan berpisah dengan teman-teman untuk kembali ke kota masing-masing kami mampir makan siang di Pondok Patin H. Yunus di daerah Simpang Tiga dekat dengan Bandara Sultan Syarif Kasim II, di rumah makan ini menyediakan makanan khas Riau antaranya Gulai Telur Ikan Patin, Asam Pedas Ikan Patin dan Sop Kerang Darah. Dan mereka menyediakan take away service, menu pilihan bisa jadi oleh-oleh komplit dengan packing-annya.


Perjalanan kali ini benar-benar melepaskan kerinduanku akan kota kecil yang bernama Duri, kota yang sudah kuanggap sebagai kampung halamanku karena disanalah masa kecil dan remajaku aku jalani.