Selasa, 08 Februari 2011

Art Latte (Pincushion Quilt)

Kisah tragis sebuah cangkir, begitulah kalimat yang melintas dikepalaku pada saat cangkir yang baru kubeli di sebuah supermarket ini pecah dibagian gagang-nya..hiks! Baru juga dipakai 2 kali ngopi di warung kopi-ku, tapi nasib berkata lain.. kudu na mah di-ikhlas-keun sa ikhlas ikhlas na.. tapi didalam hati kecil tetap tidak rela kalau cangkir ini dibuang.
Akhirnya, dengan bantuan suami gagang cangkir berhasil disatukan kembali dengan lem, sementara itu aku menjahit potongan-potongan kain perca.. taadaaaa..jadilah pincushion dengan judul "Art Latte"
 
Warung kopi-ku dapat ide baru untuk menjadikan warung ini menjadi tempat untuk berkreasi kerajinan tangan tentunya sambil menyeruput secangkir kopi nan nikmat. Tapi proyek apa lagi ya yang akan aku buat yang ada hubungannya dengan kopi :)

Selasa, 01 Februari 2011

Buku Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia di Warung Kopi-ku.

Sore itu diluar agak mendung sepertinya malam akan diguyur hujan, udara dingin membuatku ingin menyeduh secangkir kopi, tapi kopi hitamku tidak punya teman yang manis-manis karena persediaan camilan sedang kosong!
...Tok tok tok, suara pintu depan diketok... wahh, ibu mertua mengantar semangkok Pallubutung (kolak pisang ala Makassar, yang biasanya disebut es pallubutung jika ditambahkan es dan sirop merah)... pucuk dicinta ulam tiba... ahhh nikmatnya!
Tidak berapa lama, terdengar lagi ketukkan di pintu depan, seorang kurir tersenyum dan bertanya: "Apa benar ini rumah ibu WW?.. ini ada paket dari Kompasindo, bu."
... Wowww, ini dia yang aku tunggu-tunggu buku karya Rosihan Anwar "Sejarah Kecil 'Petite Histoire' Indonesia Jilid 4"
Terus terang aku bukan orang yang suka baca buku sejarah, dulu saja waktu sekolah aku selalu mengantuk ketika giliran pelajaran sejarah...tapi untuk buku yang satu ini aku sempatkan melirik isi buku. Buku ini menceritakan kisah-kisah kecil yang ternyata mempunyai arti penting bagi bangsa Indonesia. 

Tapi sebenarnya buku ini sangat istimewa untukku karena cover design buku ini memakai hasil jepretan kamera-ku. Aku sungguh beruntung, ada orang baik yang meminta izin dan menawarkan imbalan untuk memakai karya foto-ku yang pernah aku posting di Flickr, sementara banyak karya teman-temanku yang dibajak orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk keuntungan mereka sendiri (boro-boro ngasih imbalan atau nyantumin nama photographer-nya, minta izin aja ngga..uhhh!).

Kembali ke Warung Kopi-ku, suapan manis-nya pisang kepok dalam Pallubutung diimbangi dengan seruputan pahit nan nikmat dari kopi hitam-ku, benar-benar terasa komplit dengan dekapan buku karya penulis besar Rosihan Anwar didada yang membuatku bangga dan bersemangat... Alhamdulillah!

Senin, 10 Januari 2011

Ngopi di Bali dan Kopi Bali

Warung Kopi-ku pindah ke Bali!!!... tapi bukan karena pindah warung lho, tapi karena liburan. 

Bekal kopi sengaja aku bawa dari Jakarta untuk nyantai-nyatai ngopi di penginapan. Sementara anak-anak berenang aku bisa ngobrol sambil ngopi dipinggir kolam begitu rencananya, walaupun pada akhirnya lebih banyak jalan-jalan dari pada diam di villa-nya... Bali nan indah terlalu sayang untuk tidak di explore. :)) 

Pagi itu karena ke-capek-an anak-anak tidur nyenyak sampai siang, dari pada bengong sendirian aku karyakanlah kamera dan peralatan dapur di villa untuk photo session di pinggir kolam renang dengan model secangkir kopi dan sepotong brownies jajanan anakku yang belum sempat dia makan. :))

Akhirnya kesampaian juga minum kopi Bali di Bali, walaupun minumnya tidak di warung kopi seperti rencanaku dari Jakarta yaitu "kudu hunting warung kopi di Bali", tapi karena rasa Black Coffee di restauran Bebek Bengil-Ubud mantab sekali terlebih lagi ditemani sepotong Cheese Cake yang lezat,  sangat terobatilah rasa penasaranku akan kopi Bali :))

Hari ini Warung Kopi-ku beroperasi kembali setelah aku unpack koper dan bersih-bersih rumah setelah 6 hari ditinggal. Dan menu kopi hari ini Kopi Bali cap Kupu-Kupu Bola Dunia dan Pia Legong, keduanya  oleh-oleh khas dari Bali. Kalau rasa kopinya menurutku hampir seperti kopi favoritku yang gambarnya kapal laut itu lho.. :D
Well, selamat tinggal  "Island of Love" julukan baru untuk pulau Dewata yang Julia Roberts berikan saat pembuatan film "Eat, Pray, Love".
... and now, welcome back to the real world, mama!  :))

Minggu, 09 Januari 2011

BALI 1 : Berburu Sunset

Mira Lesmana pernah berkata: "You should see and feel the magic hour!" ... "Apa sih mbak the magic hour?", tanyaku ketika itu. Kira-kira begini jawaban sang Produser  Film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi: "Magic Hour dalam Cinematoghaphy (atau Golden Hour dalam Photography) adalah waktu 1 jam pada saat matahari terbit dan 1 jam pada saat matahari terbenam, pada saat perubahan waktu itu langit tampak berwarna kuning keemasan, tapi itupun tepatnya tidak berlangsung lama , hanya antara 20-30 menit sebelum matahari terbit dan setelah matahari terbenam". 

Saat refleksi warna emas matahari mengenai benda-benda semua terlihat indah... I think that's the magic hour means!

foto di lokasi shooting film Sang Pemimpi

Alhamdulillah, kebetulan awal tahun ini dapat rezeki liburan ke Bali ...dan karena selalu terngiang-ngiang kata-kata magic hour pada saat sunset.. hanya pada saat sunset lho karena ga mungkin ngerasain magic hour pada saat sunrise... (maklum keluarga kalong alias ga bisa bangun pagi!)... maka jadilah aku berburu si langit warna emas di sepanjang pantai barat pulau dewata ini.

Pantai Kuta
Mungkin untuk kebanyakan orang menikmati sunset di pantai ini sudah biasa. Alternatif lain kita bisa ke Discovery Shopping Mall, duduk di cafe menunggu sunset sambil minum kopi.
~~~

Pantai Dreamland
Terletak di daerah Jimbaran, pantainya tidak terlalu lebar. Sebenarnya suasana pantai lumayan bagus hanya jalan menuju pantai cukup melelahkan karena curam dan berbatuan dan sedikit kotor karena sampah dimana-mana, sepertinya belum dikelola dengan baik...
~~~
Pura Uluwatu
Pura yang berada di atas bukit batu karang di wilayah selatan pulau Bali yang menjorok ke samudra Indonesia, dan menurut pendapatku adalah tempat yang paling spektakuler untuk melihat sunset..



 The magic hour dapat kita nikmati sambil menyaksikan Tari Kecak yang berisi cerita drama tari Ramayana. Pertunjukkan dimulai jam 18.00 WITA dan harga tiket Rp 70.000,-/orang ... mungkin agak mahal tapi ga bakal rugi deh! :)

~~~

Tanah Lot
Pura yang berada diatas bongkahan batu ke tengah pantai. Ketika air pasang jalan menuju pura akan tertutup air laut. Terdapat 2 goa hampir saling berhadapan, goa Holly Spring (air suci) dan goa Holly Snake (ular suci menjaga pura)... sebelum menuju pura ada Art Market yang buka sampai matahari terbenam, sebaiknya jika ingin belanja oleh-oleh lakukanlah sebelum menikmati saat sunset di pantai batu sekitar pura, agar kita dapat melihat keindahan sunset dengan tenang :)


~~~
Note : 
Tentunya masih banyak lagi spot-spot indah di Bali untuk menikmati sunset, tapi sayang karena keterbatasan waktu dan cuaca jadi hanya 4 tempat yang  sempat aku datangi... mudah2an next time bisa ketempat lainnya, semoga! :)) 

Sabtu, 11 Desember 2010

Jus Sawi

Awalnya sewaktu sahabatku memberi resep ini, agak ragu apa iya sawi caisim enak dibuat jus. Tapi ternyata benar kata sahabatku, jus ini benar-benar segar. Dan yang paling penting anak-anakku suka.. dan sayur segar pun dengan mudahnya mereka konsumsi tanpa susah disuruh minum. :)

Source : Wendy Jacub

Untuk 1 gelas
Bahan :
1 lembar Sawi Caisim, cuci bersih dan buang tongkolnya.
1 potong Nenas, (1/8 buah) buang tongkolnya.
1 buah Jeruk Nipis, peras ambil airnya.
1 sm Gula Pasir, atau sesuai selera.
Garam, sedikit saja.
1/2 gelas Air Putih.
Es, secukupnya.

Cara
Blender semua bahan, saring dan sajikan segera.


Selasa, 07 Desember 2010

Kopi Aceh - Ulee Kareng

Warung kopi-ku mendapat kiriman paket dari Banda Aceh dua hari yang lalu. Seorang teman baik yang mengetahui aku suka minum kopi, berbaik hati menerbangkan 1 kg kopi Ulee Kareng yang katanya sangat terkenal di Banda Aceh dan 2 bungkus besar keripik pisang asli dari Bireuen untuk teman minum kopi. Waktu kubuka bungkus kopinya, aroma segar hasil panggangan kopi yg pas semerbak tercium.. hmmmm!


Katanya sih di Aceh telah menjadi tradisi bagi kaum prianya untuk menikmati kopi di warung-warung.  Kaum perempuan jarang bahkan hampir tidak ada yang nongkrong di warung kopi. Warung kopi tidak hanya sebagai tempat untuk menikmati secangkir kopi dan kue-kue, namun ia berkembang dengan fungsinya yang lebih luas sebagai wadah fungsi sosial, politik dan ekonomi. Mereka membicarakan bagaimana memperkuat ikatan solidaritas antar kelompok atau antar sahabat, berdiskusi isu-isu politik dan pemerintahan baik tingkat lokal, nasional maupun internasional, dan juga sebagai tempat pertemuan dan lobi-lobi bisnis.

Aku jadi ingat sewaktu aku ngopi di salahsatu warung kopi di Belitong, disana juga jarang kita jumpai kaum perempuan duduk ngopi di warung kopi. Ada untungnya juga aku hidup di ibukota bisa ngopi di gerai-gerai kopi sambil ngobrol ngalor ngidul :)

Hari ini warung kopiku lagi sepi pelanggan, karena suamiku sedang  pergi kerja dan aku... perutku sedang bermasalah alias sakit... hiks!
Tapi untung dua hari yang lalu, sempat kucoba hasil seduhan kopi Ulee Kareng yang lezat itu pas kiriman paket baru datang.

Sabtu, 20 November 2010

Kopi Tubruk dan Padang Bulan

Membaca buku dwilogi: "Padang Bulan" dan "Cinta di Dalam Gelas" karya Andrea Hirata membuatku meneteskan air mata pada lembar-lembar pertama bacaanku. Cerita dimulai tentang kesedihan Syalimah yang ditinggal mati suaminya.. aku kutib beberapa baris kalimat yang menggambarkan suasana kesedihan Syalimah.

Subuh esoknya, Syalimah lekas-lekas bangun mendengar panggilan azan. Ia ke dapur dan menanggar air. Ketika meniup siong untuk menghidupkan kayu bakar, ia tersentak karena sebuah kesenyapan. Ia baru sadar, untuk siapa ia menyeduh kopi? Ia bangkit da beranjak menjauhi tungku tanpa merasakan kakinya menginjak lantai. Suara suami-nya mengaji Alquran saban subuh telah menemaninya menghidupkan api dapur selama berbelas tahun. Syalimah duduk termangu, berkali-kali ia mengusap air matanya.  

Dan kemudian dilembar-lembar berikutnya banyak cerita-cerita lucu yang membuatku tersenyum bahkan tertawa sendiri, bagaimana Ikal disindir pamannya karena bekerja sebagai pelayan warung kopi milik pamannya, dan bagaimana Ikal berusaha membesarkan hatinya:

Jika warung kopi sedang sepi, sering aku melamun. Kunilai-nilai, sesungguhnya, serendah apa pun sebuah profesi, selalu bisa dilihat satu segi megah dari profesi itu. 

Dan ketika ia tidak menemukan letak megahnya profesinya, Ikal pun mengumpat:

Namun, dilihat dari segi mana pun, tak ada keagungan apa pun bagi seorang pelayan warung kopi. Pelayan warung kopi adalah jongos, kacung! 

Lalu kembali Ikal membesarkan hatinya :

Aku, hanya perlu menjadi seorang pelayan warung kopi, demi seseorang yang paling kuinginkan di muka bumi ini melebihi apa pun. Maka, pengorbananku belumlah seberapa dan aku tetap menjadi pahlawan bagi cinta pertamaku. Semua itu membuatku tidur dengan nyenyak, lalu bangun dalam keadaan tersenyum. Jika aku tidur dalam keadaaan tersenyum, aku bangun dalam keadaan tertawa.

. . . bacaanpun aku lanjutkan, ditemani wangi kopi yang telah kuseduh sendiri karena aku adalah pelayan dan pelanggan warung kopiku sendiri. Secangkir kecil kopi tumbruk dan sepotong baruassa kenari  (kue khas Makassar) menemani bacaan "Padang Bulan"-ku. Dan sebaris kalimat yg ada di hal.27 menggambarkan nikmatnya hirupan kopiku... 

"Saban sore, selama musim hujan, seseorang memindahkan surga dari langit ke kampung kami"